Surat Terbuka Kepada Kapolda NTT Usulkan Susanti Ndapataka Menjadi Anggota Polri

Foto Susanti Ndapataka, atlet Muaythai NTT yang telah meraih medali emas pertama pada Pon XX Papua 2021 (Dok. Kompas TV/Kalix Taus)

Kepada Yth.

Kapolda Nusa Tenggara Timur
Di
    Tempat

Salam Sejahtera dan Assalamualaikum, Wr. Wb

Dengan hormat,

Teriring do’a, saya sampaikan semoga Bapak Kappolda Nusa Tenggara Timur (NTT) dan jajarannya dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Perkenalkan, saya bernama Fridrik Makanlehi, ST.,M.Sc (Fritz Alor Boy) yang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Flobamora, mantan Sekretaris Panitia Satu Hati Untuk NTT peduli bencana Seroja NTT. Disisi lain, saya sebagai jurnalis Radar NTT, Pimpinan Kompaknews.com, Akurat Media News, Mantan Asisten Pelatih AS REPIKO, pernah bergabung dalam kubu PERSAP ALOR Suratin U-17 Tahun 2015 (juara 1), Alor United yang menjuarai segala pertandingan di kota Kupang, dan juga aktivis kemanusiaan.

Sebagai informasi, anak asuh AS REPIKO yang sudah/sedang/sudah mengharumkan NTT adalah Marcel Fanmakuni yang pernah berangkat ke MU (baca : https://www.pengawal.id/2019/04/pesepakbola-terbaik-asal-alor-ntt-kembali-berlaga-di-level-internasional.htmlhttps://www.pengawal.id/2019/04/pesepakbola-terbaik-asal-alor-ntt-kembali-berlaga-di-level-internasional.html) dan juga Abia Kago yang kini berseragam tim Sepak bola NTT Pon Papua, (baca : https://kupang.tribunnews.com/2021/07/17/inilah-20-pemain-sepakbola-ntt-yang-akan-dibawa-ke-pon-xx-papua). Mereka berprestasi, mereka telah mengharumkan nama besar kampung halamannya lewat dunia olah raga. Sayangnya, perhatian pemerintah ke para atlet – atlet berprestasi di NTT sangat kurang bagus. Bisa dikatakan sangat miris dan prihatin. Sayapernah bersama tim Pelatih PERSAP, AS REPIKO, Alor United untuk memperjuangkan kemenangan, namun ternyata tidak mudah, tidak gampang, sangat sulit, butuh pengorbanan (waktu, tenaga, pikiran, serta uang).

Sejenak kita melihat pada Susanti Ndapataka, atlet Muaythai NTT yang telah meraih medali emas pertama pada Pon XX Papua 2021. Potret kehidupan ekonomi keluarganya lumayan menggugah rasa untuk ikut rasa iba. Sebelum juara/menang, Ia latihan dengan fasilitas ala kampung (bukan fasilitas ala modern), walaupun fasilitasnya maupun kehidupan ekonomi keluarganya kurang mendukung, namun Ia tetap semangat berjuang sekuat tenaga untuk mengharumkan NTT. Lantas, bagaimana respon pemerintah maupun Polda setempat? ini menjadi pertanyaan tersebar, menjadi bahan evaluasi bagi Kadispora NTT maupun Kabupaten Kupang.

Merespon Bonus Kepada Susanti Ndapataka

Beberapa saat lalu, saya mendapatkan informasi bahwa atlet Muaythai Nusa Tenggara Timur, Susanti Ndapataka peraih medali emas pertama di PON XX Papua mendapatkan bonus yang kurang menarik. Selain itu, bagiku, bonus honorer yang diberikan kepada para atlet berprestasi merupakan hal yang memilukan batin kemanusiaan. Mengapa kurang menarik? Karena pemberian bonus berupa honorer dari pemerintahkepada atlet yang telah berjasa bagi NTT merupakan hal yang kurang tepat. Mengapa kurang tepat? Karena bonus tersebut bukan solusi untuk mensejahterakan masa depan Susanti Ndapataka dan para atlet lainnya, melainkan hanya sebatas menyenangkan sesaat. Sebab honorer tersebut belum tentu diangkat menjadi PNS dalam waktu dekat.

Bagiku, merekalah pahlawan olah raga NTT yang perlu dihargai, dihormati, dirawati, dibinda dan dipupuk. Mereka telah berjasa dan mengangkat nama besar NTT. Ketika mereka berhasil dan menang, bukan hanya keluarganya saja yang senang melainkan pemerintah setempat juga ikut merasakan dampaknya. Seharusnya, pada atlet inilah yang patut dan layak diberikan beasiswa untuk melanjutkan studi di universitas negeri.  Maka dari itu, pemerintah setempat sudah seharusnya memberikan beasiswa untuk mereka pergunakan melanjutkan studi (S1, S2 dan S3).

Mari berkaca pada Papua. Para atletnya diberikan bonus gila-gilaan (menggiurkan) hingga beberapa atlet mendapatkan jatah PNS. Sebagai bukti: Okto Maniani, Boaz Salossa (Mantan pemain Timnas Indonesia) diangkat menjadi PNS.

Disisi lain, adapula bonus kuliah di UNKRIS diberikan oleh Bapak Rudy kabunang dan bukan dari pemerintah setempat, Merilis Pos Kupang.com, “Susanti adalah anak NTT yang mengharumkan nama Provinsi NTT di tingkat Nasional. Saya membaca berita dia media, dia punya cita-cita dan keinginan untuk bisa kuliah. Tetapi karena keterbatasan ekonomi keluarganya sehingga tidak ada biaya untuk kuliah sejak lulus SMA tahun 2017,” sebut Rudy Kabunang Kamis 7 Oktober 2021.

Walaupun Susanti telah diurus oleh Bapak Rudy untuk studi lanjut di UNKRIS (baca : https://kupang.tribunnews.com/amp/2021/10/11/susanti-ndapataka-resmi-jadi-mahasiswa-di-unkris-kupang), namun perlu juga bantuan pemerintah untuk memperhatikan hal lain. saranku, lebih tepatnya beasiswa.

Mana Bonus Dari Kapolda NTT?

Sampai saat ini, saya belum membaca satu sumber berita atau mendengar komentar dari Bapak Kapolda NTT terkait “merespon anak-anak NTT yang telah berprestasi dibidang olah raga”. Apakah Bapak Kapolda sudah mengetahui bahwa Susanti dan kawan-kawannya telah berhasil mendapatkan emas, perak dan perunggu untuk membawa nama besar NTT?.

Melihat pada realita lain, M. Hargianto, M. Sahrul Kurniawan, Putu Gede Juni Antara, M. Fatchurohman dan Wahyu Subo Seto.yang telah menjadi Anggota Polri. Jika mereka-mereka saja bisa diangkat menjadi anggota Polri, Mengapa Susanti Ndapataka dkk tidak diangkat menjadi Anggota Polri?. Merilis antaranews.co, Zohri ditawari menjadi polisi melalui jalur khusus https://www.antaranews.com/berita/726573/zohri-ditawari-menjadi-polisi-melalui-jalur-khusus

Jika pemerintah berikan bonus berupa uang saku dan honorer, lantas Bapak Kapolda NTT berikan bonus ap? saya kira Bapak kapolda bisa baut kebijakan untuk angkat Susanti Ndapataka menjadi Anggota Polri lewat jalur khusus (baca : https://artikelddk.com/inilah-syarat-penerimaan-bintara-polri-proaktif-jalur-prestasi-tahun-2021/.)

Apakah peraih medali emas pertama ini layak dihargai dengan bonus seperti itu (honorer) saja?. Bapak Kapolda, bagiku, bonus berupa honorer kepada atlet yang sudah mengharumkan NTT merupakan hal yang kurang tepat. Oleh karena itu, Bapak Kapolda merupakan pimpinan dan juga, merupakan orang tua dari kami, atlet atau masyarakat NTT. Oleh karena itu, sebagai aktivis kemanusiaan yang berasal dari kabupaten Alor, Provinsi NTT yang berdomisili di DKI Jakarta berani melayangkan surat terbuka ini kepada Bapak kapolda NTT, Irjen Pol Lotharia Latif, agar :

Pertama, Para Atlet Nusa Tenggara Timur yang telah mendapatkan Emas, Perak maupun perunggu diberikan bonus berupa Lolos atau diangkat menjadi Anggota Polisi Republik Indonesia;

Kedua, Khusus untuk Susanti Ndapataka, Menurut informasi, Ia menyelesaikan SMA pada tahun 2017. Sehingga, jika usianya masih layak sesuai administrasi yang ditentukan, maka dimohonkan agar Bapak Kapolda NTT segera menyampaikan pesan ini kepada Bapak Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) untuk mengangkatnya menjadi Anggota Polisi Republik Indonesia dan juga, segera alokasikan anggaran untuk renovasi rumahnya.

Ketiga, Bisa berkolaborasi dengan pemerintah atau Kementerian Pendidikan, agar mereka diberikan beasiswa S1/S2/S3 untuk para atlet tersebut berstudi di Kampus ternama seperti UGM, UI, ITB, IPB, UNJ, UNDANA dan sebagainya.

Sebagai penutup, saya menitipkan Putera/i NTT yang telah berprestasi mendapatkan medali emas, perak dan perunggu ke tanggan Bapak Kapolda NTT. Bilamana didalam surat terbuka ini terdapat kekeliruan, kesalahan atau kekurangan baik dalam penulisan nama, gelar, kata atau frasa, tata bahasa, dan sebagainya, maka dengan merasa bersalah, saya memohon maaf kepada Bapak Kapolda NTT.

Demikian surat terbuka ini dibuat, semoga surat ini segera ditindaklajuti dan diresponi oleh Bapak Kapolda NTT.

Akhir kata, Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolda NTT yang telah meresponi dan mengakomodir Putera/i NTT yang telah berprestasi mengharumkan nama besar NTT.

“Tara miti Tomi nuku artinya berbeda-beda pandangan/pendapat, tetapi bersaudara atau satu NTT”

Jakarta, 11 Oktober 2021
Hormat Saya,

Fridrik Makanlehi, ST.,M.Sc