Berita  

Dari Dekat Dengan Aksi, Bukan Dari Panggung Hanya Dengan Kata

Oleh : Evensianus Dahe jawang

“Datanglah kepada rakyat, hiduplah bersama mereka, mulailah dengan apa yang mereka tahu, bangunlah dari apa yang mereka punya, gunakan bahasa mereka karena pemimpin dan pendamping itu ketika pekerjaan selesai, rakyat dengan bangga akan mengatakan, “kami telah siap, kami sendirilah yang akan menyelesaikannya” Lao Tze.

Dari ungkapan ini, satu pertanyaan yang perlu ditanyakan adalah, seperti apa itu pemimpin? Secara umum pemimpin adalah orang yang mempunyai jabatan tertinggi.

Mengenai pemimpin semua pasti tahu bahwa seorang pemimpin adalah orang yang memimpin di satu wilayah atau daerah tertentu. Namun apa makna pemimpin dan kepemimpinan yang sebenarnya?.

Dalam tulisan singkat ini, coba diuraikan dengan bertitik tolak pada beberapa pemikiran para filsuf, selain dari apa ang telah diungkapkan Lao Tze. Pertama datang dari Emmanuel Kant dengan pemikiran tentang kepemimpinan yang rasional. Maksudnya bahwa rasionalitas menjadi penting bagi seorang pemimpin dalam memimpin. Rasionalitas menjadi penting tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga dalam membuat setiap keputusan bersama. Berbeda dari Marx dengan kepemimpinan praksisnya. Dalam hal ini, ada sesuatu yang lebih dari hanya sekedar memimpin yakni tindakan praktis. Lain lagi dari Kierkegaard dengan kepemimpinan autentiknya. Bahwasannya, seseorang mampu untuk memutuskan yang terbaik dan menjalin hubungan dengan orang lain. Demikian Habermas dengan kepemimpinan yang komunikatif. Maksudnya bahwa dalam sebuah kepemimpinan ada terjalin komunikasi antara yang memimpin dan yang dipimpin. Selalu ada tranparansi yang membangun.

Bertolak dari beberapa pemikiran tentang kepemimpinan ini, hemat saya pemimpin berarti seseorang yang tidak hanya mampu untuk berbicara dengan kata-kata. Tetapi lebih dari itu, mampu untuk berbicara dalam tindakan nyata. Tentu setiap pemimpin mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Namun demikian, semangat kepemimpinan akan tetap sama yakni demi kebaikan hidup bersama. Seperti apa yang diungkapkan oleh Napoleon Bonaparte “Seorang pemimpin adalah pemberi harapan. Ketika seseorang dipilih untuk suatu tugas tertentu, disitu juga ada harapan bahwa akan ada sesuatu yang baru di masa depan.

Seperti juga yang diungkapkan oleh Lao Tze, jika dikaitkan dengan beberapa pemikiran filsuf ini, tentu memiliki maksuda dan tujuan yang sama. Hal yang menjadi kemiripan dari pemikiran ini adalah, tentang pemaknaan pemimpin, lebih dari hanya sekedar sebuah jabatan. Namun, lebih dari itu pemimpin merupakan sebuah jabatan yang memerlukan aksi sebagai yang “melayani” dengan mampu untuk masuk dalam setiap situasi masyarakat dan merangkul dalam keberagaman.

Menjadi pemimpin berarti harus siap untuk melayani. Pemimpin berarti tidak hanya dari panggung dengan kata, tetap harus turun dan melihat dari dekat dengan aksi. Pemimpin berarti harus melihat lebih jauh dan berani untuk datang dan merangkul. Tidak cukup hanya dengan berbagai ungkapan dalam bahasa, tetapi harus direalisasikan dalam tindakan nyata. Seperti apa yang diungkapkan Lao Tze, merupakan ungkapan yang bersifat praksis yang memerlukan praktik. Berbeda dari apa yang diutarakan para filsuf, yang merupakan aspek-aspek yang ada dalam diri seorang pemimpin. Meskipun demikian, semua pendapat ini, mempunya tujuan yang sama yakni, harapan akan seorang pemimpin yang berintegritas tinggi.

Jokowi dan petualang kepemimpinan

Setiap pemimpin tentunya mempunyai karaktekristik dan gaya pemimpinan yang berbeda-beda. Sebut saja salah satu pemimpin negara, yang terkenal santun yakni Ir. H. Jokowi dodo. Sebelum menjabat sebagai presiden, pak Jokowi adalah wali kota Solo. Dalam masa kepemimpinan, terlepas dari segala problem yang ada dalam masa kepemimpinannya, pak Jokowi telah membuat suatu cerita yang tentu saja berbeda. Satu hal yang menarik dan unik adalah, pak Jokowi tidak hanya berbicara dari panggung, tetapi turun dan masuk ke dalam kehidupan rakyat.

Selama masa kepemimpinannya, hampir dan bahkan semua daerah yang berada di wilayah Indonesia, dari sabang sampai marauke ia kunjungi. Hemat saya, hal yang utama dari peristiwa kunjungan adalah, melihat dan menyaksikan serta merasakan kehidupan rakyat dari dekat. Mulai dari tanah papua sampai ke Sumatra, hingga ke timur NTT ia kunjungi. Gambaran dari sosok pemimpin yang merakyat, seperti apa yang diungkapkan oleh Lao Tze.

Di tengah peristiwa pandemi yang melanda dunia, pak Jokowi tampil sebagai pribadi yang mampu untuk memberikan harapan. Bahkan peristiwa lain yang melanda daerah NTT, dan beberapa daerah lainnya yakni banjir, pak Jokowi tidak tinggal diam. Ia menyambangi lokasi dari dekat dan memberikan ucapan belasungkawa kepada para korban dan keluarga korban. Sebagai seorang pemimpin, pak Jokowi tidak hanya melihat dari kejauhan, tetapi turut ambil bagian dalam kunjungan. Suatu gambaran seorang pemimpin petualangan, yang selalu menjadi bagian dari rakyat. Pak Jokowi telah menunjukan kecintaannya, dengan mengetahuia apa yang rakyat tahu, sebagaimana yang diungkapkan oleh Lao Tze.