Malang, KomPaknews.com l Terkait pencalonan presiden, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (SP) mengatakan konvensi merupakan salah satu upaya yang baik dalam sistem demokratisasi dan moderisasi bangsa Indonesia.
“Konvensi adalah salah satu dari upaya demokratisasi dan moderisasi hal tersebut, yang menjadi cara untuk mensiasati agar kesempatan menjadi lebih terbuka dan lebih luas-seluasnya bagi semua kalangan yang merasa mampu menjadi calon pemimpin dinegeri ini,” hal itu disampaikannya dalam pidato penganugerahan gelar doktor kehormatan atau honoris causa bidang sosiologi politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik oleh Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur (25/07/2022).
Ia menilai, untuk selama ini yang menjadi calon presiden hanya orang yang mempunyai kekuasaan saja.
Ia mengatakan hal itu karena ia ingin membuka kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua kalangan untuk menjadi calon presiden. Tidak hanya itu, bagi dia, hak untuk mencalonkan diri sebagai presiden adalah hak seluruh warga negara.
“Hak mencalonkan diri sebagai presiden adalah hak seluruh warga negara, namun realita politik yang ada membuatnya eklusif sedemikian rupa,” katanya.
“Hanya bagi kalangan tertentu saja yang bisa mencalonkan diri sebagai presiden, misalnya. Katakanlah ketua umum partai, pejabat publik, menteri, kalangan berduit dan seterusnya,” sambung Surya Paloh.
Sementara Dekan FISIP UB, Dr. Sholih Muadi, SH., M.Si mengatakan, gagasan-gagasan Surya Paloh sangat tepat dan cocok didaratkan dilingkungan universitas khususnya di Umbraw. Karena menurut dia, universitas adalah agen of change, maka dari itu gagasan-gagasan yang dikemukakan Surya Paloh tepat disarangkan di Umbraw.
“Gagasan beliau ini harus di-landing-kan ke sebuah perguruan tinggi karena perguruan tinggi adalah tempat melakukan perubahan (agen of change), tempat untuk pembaharuan. Oleh karena itu, sangat pas kalau bapak nanti bagian dari kita dan menyampaikan itu didepan khalayak pendidikan, depan khalayak universitas Brawijaya.
Sholih menjelaskan, pemberian doktor honoris causa kepada Surya Paloh bukan tanpa alasan. Seluruh Profesor maupun promotor serta jajarannya FISIP Umbraw sudah menyeleksi secara akademis.
“FISIP menetapkan beliau sebagai penerima doktor honoris causa ini bukan tanpa dasar, yang pertama, Pak Promotor kebetulan adalah ketua senat Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana, MS., dan juga para tim, co-promotor kebetulan co-promotornya saya sendiri dan Dr. Imam Rozuli itu mempelajari dengan cermat langkah-langkah beliau dan memberi dengan cermat tulisan-tulisan beliau,”sebut dia.
Ini alasan yang dikemukakan Sholih, yakni Surya Paloh ikut aktif dalam pembesan sandera di Filpinan, Surya paloh ikut dalam perlawan ketidakadilan terhadap Pers dimasa orde baru, mempunyai gagasan restorasi Indonesia dan juga mengusung politik ‘tanpa mahar’ untuk parpolnya ditengah money politik yang begitu kencang.
“Banyak hal yang beliau (Surya Paloh) lakukan, semua orang harus tau. Dan mudah-mudahan, pada pagi hari ini menjelang siang ini Pak Surya tidak bermaksud untuk menyombongkan diri,”
“Akan saya sampaikan beberapa hal, yang pertama, ternyata beliau ini adalah aktif didalam pembebesan sandra di Filipina dan itu tidak bisa dicoret didalam sejarah, tidak main-main; yang pertama, yang menjadi catatan saya, catatan yang kedua oleh promotor disampaikan bahwa ‘beliau ini adalah tokoh perlawanan ketidakadilan Pers pada masa orde baru‘; yang ketiga, beliau ini adalah membuat satu gagasan baru tentang restorasi Indonesia; yang lebih mencengangkan lagi, dimasa dimana politik itu dianggap segala sesuatu yang kotor, dianggap segala sesuatu tidak baik, beliau mencetuskan ide tentang politik tanpa mahar,” ucap Sholih dalam sambutannya pada acara penyerahan honorer causa itu.
Turut hadir, yaitu Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri KLHK Siti Nurbaya Bakar, Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, politikus Partai NasDen dan jajaran Universitas Brawijaya.
