Jakarta, KomPaknews.com l Sekretaris Jenderal Presidium Indonesia, Firman Tendry, meminta kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) menganulir kepesertaan Presiden Joko Widodo pada pemilihan umum 2024 mendatang.
Hal itu disampaikan Tendry usai mengikuti pertemuan internal Presidium Indonesia di Jakarta, Sabtu 18 November 2023.
Menurutnya, Joko Widodo memang tidak ikut serta secara langsung pada pilihan raya tahun depan, tetapi dia telah mempertontonkan politik cawe-cawe secara brutal kepada masyarakat.
Pada pemilihan umum yang akan digelar pada Februari 2024, kata Tendry, Joko Widodo mendorong putranya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi calon Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto.
“Sikap ini mencederai demokrasi,” ucapnya dalam.
Tendry adalah mantan aktivis gerakan reformasi 1998 yang sekarang menjadi salah satu kader partai politik. Dia bersama Faizal Assegaf, Satio “Komeng” Purwanto, serta 100-an aktivis lintas partai dan generasi membentuk Presidium Indonesia di Jakarta.
Institusi ini sengaja dibentuk guna menyuarakan ketidakpuasan situasi demokrasi di Indonesia yang semakin terancam sejak Joko Widodo memimpin Indonesia, 2019-2024.
Menurut Tendry, menggadang-gadang Gibran mendampingi Prabowo Subianto pada kontestasi politik 2024 sangat mencederai nilai-nilai demokrasi yang diperjuangkan sejak reformasi 1998.
Oleh sebab itu, Tendry menjelaskan, KPU harus berani membatalkan Prabowo Subianto dan Gibran mengikuti pemilihan umum 2024. Sebab, pasangan ini adalah representasi kehadiran Joko Widodo pada pesta demokrasi rakyat.
“Kami akan menggugat KPU ke pengadilan jika tetap ngotot meloloskan Prabowo-Gibran menjadi peserta pemilu. Politik cawe-cawe Jokowi sangat kasar,” tegasnya. “Pemilu 2024 harus tanpa Joko Widodo,” tambahnya.
Pernyataan Tendry diamini oleh Satio Purwanto yang lebih akrab dipanggil Komeng. Lelaki yang menjabat sebagai Ketua Aksi Presidium Indonesia itu mengatakan, seluruh elemen masyarakat yang tidak puas dengan langkah politik Presiden Joko Widodo akan menggelar aksi jalanan.
Komeng menjelaskan, masyarakat terpaksa turun ke jalan untuk menyuarakan ketidaksenangan atas situasi demokrasi yang berantakan akibat politik cawe-cawe Joko Widodo. “Kami siap melakukan aksi jalanan, tinggal tunggu mainnya,” pungkas Komeng.
