Berita  

Geisz Chalifah: Kelompok Studi Pena

Geisz Chalifah. Foto: IG geisz_chalifah

Jarak terjauh di dunia ini adalah; Mimpi kita di masa lalu dengan Fakta yang kita hadapi hari ini.

Namun jarak terdekat di dunia ini adalah persahabatan yang tak lekang oleh jaman.

Mimpi di masa lalu bisa saja terkuburkan dengan fakta yang dihadapi hari ini, mungkin pula beralih kepada mimpi lainnya. Atau bisa pula lelah untuk menggapai lalu berhenti bermimpi. Tapi tidak dengan persahabatan.

Pertemanan menjadi sedemikian panjang karena telah melewati beragam tantangan zaman, lalu terseleksi secara alamiah.
Ada orang-orang yang terus bersama ataupun terpaksa berpisah jalan dengan muram.

Foto diatas itu adalah cerita tentang pertemanan yang telah melewati lebih dari 40 tahun. Dengan keunikan masing-masing individu yang diterima segala kelebihan dan kekurangan dengan apa adanya.

Di masa lalu di masa mahasiswa. kami membentuk kelompok studi. Bernama Kelompok Studi Pena. Mendatangi setiap undangan seminar, berbicara di setiap acara diskusi. Membaca jurnal, membaca beragam buku yang sedang menjadi topik bahasan dimasa itu. Seperti buku berjudul; Piramida Kurban Manusia, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan dan banyak lagi lainnya, Beberapanya menjadi topik hangat untuk didiskusikan.. Belum lagi jurnal LP3ES bernama Prisma yang setiap penerbitannya menjadi perdebatan seru diantara kami. Juga setiap Cak Nur membuat artikel di koran kompas dan beragam artikel lainnya.

Berdebat, berdiskusi dengan berbeda pendapat, menjadi tradisi harian yang setiap individunya memiliki integritas untuk selalu berfikir dengan pendekatan berbeda secara merdeka.

40 tahun lebih telah berlalu di awal cerita bermula dengan segala romantisme di masa lalu.

Ridwan Monoarfa, kini terpilih menjadi Angota DPRD Gorontalo dari Partai Nasdem, Agus Milaz Jamal yg tetap setia di jalur profesional. Yan Hiksas seorang pengusaha dan juga tetap konsisten di jalur politik melalui Partai Golkar, namun Karakternya yang tak bisa membungkuk – bungkuk kepada ketua umum atau siapapun. Membuat dia selalu terjerembab di jalur yang benar tapi tersisihkan dari para kaum pragmatis yang sekaligus oportunis.

Yan Hiksas tak pernah bersedia menistakan dirinya untuk penjadi penyembah “berhala” apalagi kepada orang lain yang cuma karena sedang memiliki jabatan tertentu.

Ada beberapa teman lainnya di dalam kelompok Studi Pena yang tak bisa hadir malam tadi.

Kami berkumpul tak hanya bercerita tentang masa lalu tapi juga memprediksi tentang masa depan dari gunjang – ganjing situasi saat ini. Tapi tidak dengan kemarahan yang meluap-luap, melainkan becandaan secara sinikal, khas Kelompok Studi pena. Sambil mentertawakan para aktifis lain dari jaman yang sama dan mungkin saja telah menjadi kaya raya atau tampil kepermukaan tapi dengan. Menjajakan harga diri kepada penguasa dengan menipu hati nuraninya sendiri.

Ruang dan waktu telah memberi kita banyak pengalaman dalam berinteraksi.

Ada jarak yang jauh antara mimpi kita di masa lalu dengan fakta yang kita hadapi hari ini. Namun setidaknya jarak yang terdekat dan jarak itu tetap terjaga, yakni perkawanan yang selalunya hangat dan meriangkan hati bila bertemu. Walau tetap saja tak pernah sekalipun ada kesepakatan dalam setiap diskusi. Mungkin oleh sebab itu perkawanan ini tetap terjaga. Karena satu sama lain memiliki respek terhadap lainnya.

Dan yang paling utama dari semua itu.
Diantara kami tak ada satupun yang memikili bakat untuk menjadi Penjaja Harga Diri.