Berita  

Soal Cosmas, Forum Pemuda NTT Jakarta Buka Suara Gregorius : Kompol Kosmas: Dihukum, atau Justru Diselamatkan?

Salah Satu Kuasa Hukum tiga pelaku penculikan, Gregorius Upi, S.H., M.H.,

Jakarta, KomPaknews.com – Keputusan Komisi Kode Etik dan Profesi (KKEP) Polri yang memecat Kompol Kosmas Kadju Gae menuai penolakan dari ratusan ribu hingga jutaan masyarakat, termasuk Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur seluruh Indonesia.

Dalam momen ini, Ketua Dewan Pimpin Wilayah Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur (DPW FP NTT) DKI Jakarta, Gregorius Upi Deo atau yang dipanggil Greg menolak secara langsung melalui aksi langaung maupun dalam tulisannya.

Dalam tulisannya, Greg mengatakan “Kompol Kosmas: Dihukum, atau Justru Diselamatkan? Silakan dibaca sampai selesai.

Kompol Kosmas: Dihukum, atau Justru Diselamatkan?

Di balik hiruk pikuk sidang etik polisi, publik terhenyak oleh sebuah ironi: sopir loe yang jelas-jelas menabrak hingga merenggut nyawa hanya dihukum demosi tujuh tahun, sementara Kompol Kosmas, saudara kita dan sang komandan yang tidak menyentuh setir justru dijatuhi sanksi paling keras: Pemberhentian Dengan Tidak Hormat (PDTH).

Sekilas, keputusan ini tampak kejam dan tidak masuk akal. Publik pun wajar bertanya: mengapa pelaku langsung masih bisa berseragam, sementara komandannya justru dilucuti seragamnya?

Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada kemungkinan lain. Bisa jadi, ini bukan sekadar hukuman, melainkan strategi citra yang memiliki dua wajah.

Pertama, citra institusi
Polri ingin terlihat tegas. Dengan memecat seorang komandan, pesan yang ingin ditampilkan sederhana: “Kami tidak pandang bulu. Siapapun bisa dihukum, bahkan perwira berprestasi sekalipun.” Dari sisi formal, langkah ini bisa dipahami sebagai upaya meredam kritik dan menjaga wibawa institusi.

Kedua, citra individu
Justru karena hukumannya terasa terlalu berat, publik berbalik simpati. Kompol Kosmas yang dikenal memiliki rekam jejak baik dan diakui sebagai salah satu komandan terbaik, kini dipandang bukan sebagai pelanggar, melainkan sebagai korban. Ia muncul di mata masyarakat sebagai “tumbal citra”—seseorang yang dikorbankan demi menjaga wajah institusi.

Dan di titik inilah paradoks bekerja. Alih-alih hancur oleh PDTH, nama Kosmas justru terangkat. Ia dihukum oleh institusi, tetapi diselamatkan oleh simpati rakyat.

Membantu lewat jalan berliku
Maka pertanyaan yang patut diajukan: apakah ini cara Polri diam-diam membantu Kosmas? Bisa jadi demikian. Dengan menjatuhkan hukuman keras, Polri mendapat kredit “tegas” di atas kertas, tetapi efek sosialnya justru menempatkan Kosmas di posisi terhormat. Ia mungkin keluar tanpa seragam, tetapi keluar dengan kehormatan moral yang lebih tinggi.

Sejarah menunjukkan, simpati publik sering kali lebih kuat dan lebih abadi dibanding pangkat atau jabatan. Kosmas bisa saja kehilangan status formalnya sebagai perwira, tapi ia memperoleh sesuatu yang lebih besar: penghargaan dan pembelaan dari masyarakat luas.

Pada akhirnya, publik menyerahkan penilaian mereka sendiri. Di atas kertas, Kompol Kosmas dihukum. Tetapi di hati masyarakat, ia justru diselamatkan.