Opini  

Ade Armando Menurut Erizeli Jely Bandaro

Foto: akun facebook Erizeli Jely Bandaro

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Dulu ada Ulil Abshar-Abdalla. Mungkin anda semua tahu siapa dia. Ulil menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (wakil Rois Am PBNU periode 1994‑1999 ). Pernah menjadi santri di pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen, Pati.

Dia mendapat gelar sarjananya di Fakultas Syariah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Setelah menyelesaikan gelar masternya di bidang agama di Universitas Boston, ia melanjutkan program doktoral di Universitas Harvard, AS. Dia punya basik pengatahuan islam yang lengkap dan terlahir dari keluarga NU, bahkan mertuanya tokoh NU.

Ulil dikenal tokoh islam liberal, yang menjadi pendiri dan mantan koordinator Jaringan Islam Liberal. Kalau dibandingkan pemikiran dia, benar-benar engga ada artinya Ade Armando. Mengapa? Bayangin aja. Pada tahun 2003, sekelompok ulama Islam Indonesia dari Forum Ulama Umat Islam mengeluarkan fatwa kematian untuk Ulil untuk sebuah artikel bahwa Ulil menulis di Kompas pada tahun 2002, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” yang dianggap menyimpang oleh para ulama.

Pada bulan Maret 2011, sebuah bom surat yang ditujukan kepada Ulil di Komunitas Utan Kayu meledak, melukai seorang perwira polisi. Ulil juga menolak keputusan pemerintah terhadap Ahmadiyyah. Nah kebayangkan siapa dia ? Tetapi kebencian sebagian umat islam kepada Ade Armando jauh lebih keras. Lantas mengapa sampai sebegitunya sebagian umat islam membenci Ade?

Karena dia ahli komunikasi. Cara dia menyampaikan perbedaan pandangan agama itu dalam bahasa komunikasi yang mudah dipahami semua orang, termasuk orang non islam. Sementara, sebagian tokoh islam menjadikan islam itu sebagai kendaraan politik. Bagi mereka, Ade sebagai racun yang bisa mengacaukan target yang hendak dicapai. Apalagi dia pendukung rezim Jokowi. Tetapi pendukung rasionalitas. Bukan asal dukung saja.

Kelemahan sebagian umat islam adalah menolak dialektika beragama. Agama sudah jadi semacam idiologi, yang tidak boleh dipertanyakan atau diragukan. Ya sama dengan komunisme. Akibatnya sebagian umat islam sulit berkembang ditengah zaman yang berubah dan berkompetisi. Niat Ade baik, tetapi niat baik itu menjadikan nyawanya terancam. Uda, sehat selalu. Jaga diri baik baik dan tetap istiqamah ya.

Penulis merupakan Pegiat Media Sosial.