Defisit Perdagangan AS-RI dan Dinamika Hubungan Dagang RI-RR T

Oleh: Andreas Ambesa

Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan Indonesia, yang mencapai USD 18 miliar pada 2024, menonjolkan kekuatan ekspor Indonesia seperti elektronik, tekstil, dan alas kaki. Namun, apakah defisit ini menguntungkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), mitra dagang utama Indonesia, dan bagaimana kebijakan tarif AS terbaru serta dinamika geopolitik memengaruhi daya saing Indonesia dibandingkan Vietnam?

Indonesia mencatat defisit perdagangan dengan RRT sebesar USD 1,77 miliar pada Januari 2025, dengan 70% kebutuhan industri seperti komponen elektronik dan mesin diimpor dari RRT. Lonjakan ekspor Indonesia ke AS meningkatkan permintaan bahan baku RRT, menguntungkan RRT sebagai penguasa rantai pasok global.

Perang dagang AS-RRT sejak 2018 mendorong relokasi rantai pasok ke Indonesia, tetapi RRT tetap dominan sebagai pemasok utama.

Namun, kebijakan tarif AS terbaru—20% untuk Vietnam pada 3 Juli 2025 dan 19% untuk Indonesia mulai 15 Juli 2025—memicu pertanyaan tentang daya saing Indonesia. Meskipun tarif Indonesia sedikit lebih rendah, Vietnam unggul dengan logistik lebih efisien dan investasi asing 20% lebih tinggi, didukung oleh diplomasi agresif dan kebijakan preferensial dari Presiden Trump.

Ketergantungan Indonesia pada bahan baku RRT, yang semula tarifnya dikenakan AS hingga 145% tetapi dalam kesepakatan terbaru dipangkas menjadi 30%, masih menambah biaya produksi, melemahkan daya saing harga dibandingkan Vietnam, yang lebih terdiversifikasi dalam rantai pasok.

Proyeksi ekonomi 2026 menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia melambat ke 4,7%–5,1%, tertinggal dari Vietnam yang diprediksi tumbuh 6,5% karena ekspor teknologi dan investasi asing langsung (FDI) stabil sebesar USD 25 miliar.

Geopolitik memperumit dinamika ini. Kesepakatan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia-Vietnam 2025, berbasis UNCLOS, menantang klaim maritim RRT di Laut China Selatan, memperkuat posisi Indonesia dan Vietnam 𝘮𝘪𝘥𝘥𝘭𝘦 𝘱𝘰𝘸𝘦𝘳𝘴, tetapi berisiko memicu ketegangan dengan RRT, mitra dagang utama keduanya.

Indonesia merespons dengan diversifikasi ekspor melalui 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘮𝘱𝘳𝘦𝘩𝘦𝘯𝘴𝘪𝘷𝘦 𝘦𝘤𝘰𝘯𝘰𝘮𝘪𝘤 𝘱𝘢𝘳𝘵𝘯𝘦𝘳𝘴𝘩𝘪𝘱 (RCEP), relaksasi konten lokal dari 40% ke 25%, dan impor strategis AS senilai USD 19 miliar.

Meski demikian, defisit perdagangan AS-RI tidak hanya menegaskan keunggulan ekspor Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi RRT dalam rantai pasok global, sementara Vietnam melaju lebih kencang di pasar global.