Jakarta, KomPaknesw.com l Anggota DPR RI dan juga Ketua Pembina DPP GARPU Sulawesi Utara Hillary Brigitta Lasut, S.H., LL.M. Hillary mengatakan bahwa penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) adalah mahasiswa berpretasi yang telah terseleksi secara matang atau baik. Sayanganya, alumni LPDP yang telah dikuliahkan di luar negeri bukannya pulang mengabdi di Indonesia melainkan masih mengabdi di luar negeri.
Hal ini disampainya saat ia menjadi Keynote Speaker pada Webinar yang bertemakan ‘Meraih Mimpi Lewat Beasiswa LPDP’ yang diselenggarakan oleh DPP Gerakan Restorasi Pedagang dan UMKM (GARPU) secara zoom dan youtube pda Kamis (03/03/2022).
Dikesempatan itu, ia menilai, ada alumni LPDP yang masih berada di luar negeri dan tidak mau pulang mengabdi di Indonesia. Pada hal, kata dia, alumni LPDP tersebut sekolah menggunakan uang rakyat.
“Kalau sudah pernah kuliah di luar negeri, rasanya ragu kalau pulang kembali ke Indonesia,” ujar Anggota DPR RI termuda dari Fraksi Partai NasDem itu.
Legislator asli Sulawesi Utara itu membeberkan alasan kebanyakan penerima beasiswa termasuk LPDP yang berstudi di luar negeri tidak kembali ke Indonesia
“Apakah di Indonesia kita akan bisa mendapatkan jaminan kesejahteraan yang layak, yang kita bisa terima diluar; apakah gaji yang kita terima akan sebaik dan menggiurkan tawaran diluar negeri; dan apakah ilmu yang kita pakai, ilmu yang sudah kita timbah ini, apakah akan terpakai dengan baik kalau kita di Indonesia?”
Selain hal itu diatas, ia juga mengatakan, ada banyak penerima beasiswa yang berpikir pada UUD (Ujung-ujungnya Duit). Menurutnya, mereka sudah kembali mengabdi di Indonesia karena persoalan gaji yang tidak sebaik atau selayak yang diharapkan.
“Dan jangan sudah belajar politik, sudah belajar hukum, sudah belajar segala hal idealis yang bentuknya. Ketika kita kembali ke Indonesia semuanya kembali ke UUD atau Ujung – ujung Duit. Jadi, kita merasa kemampuan untuk membuat satu inovasi, membuat perbedaan dan membuat perubahan rasanya sepertinya useless di Indonesa. Karena toh, nantinya, ketika sudah pulang pun nanti jangan-jangan ilmu kita ini tidak dihargai. Nah, itu kebanyakan masinsate anak – anak beasiswa yang menerima pendidikan di luar negeri bahkan banyak siswa. Setahu saya, siswa LPDP yang bahkan tidak mau pulang. Saya sering dengar kasus itu,” sambungnya.
Menurutnya, kuliah di luar negeri pasti mendapatkan kenyamanan; mendapatkan gaji yang menggiurkan sehingga untuk kembali ke Indonesia pasti menjadi tanda tanya.
“Jujur, saya dan teman yang pernah berkuliah diluar negeri pasti pernah merasakan keraguan. kalau sudah pernah kuliah di luar negeri rasanya ragu kalau pulang kembali ke Indonesia,” tambahnya.
Hal lain yang disampaikan yaitu ada banyak penerima beasiswa di lua negeri yang tidak mampu menyelesaikan studinya. Bahkan katanya, ada juga yang berhenti kuliah.
“Karena banyak yang sudah pergi tapi tidak mampu menyelesaikan, banyak yang sudah kuliah, sudah diberikan kesempatan tapi berhenti ditengah jalan. Syukurlah, biasanya beasiswa LPDP seleksinya cukup ketat, cukup sulit, hingga bahkan untuk mahasiswa yang terpilih biasanya jauh lebih berprestasi,” imbuhnya.
Walaupun penerima LPDP berprestasi namun sudah menjadi alumni, alumni tersebut tidak mau pulang mengabdi di Indonesia.
Ia juga mengimbau agar sebelum berangkat untuk kuliah di luar negeri sebaiknya penerima beasiswa perlu menyiapkan m
“Kalau menurut saya secara pribadi, selain kemampuan mental untuk bisa bertahan diluar negeri, tekanan ketika belajar diluar negeri. Yang paling penting adalah kesadaran bahwa kita belajar di mancanegara. Sehingga, setelah pulang dari luar negeri, setelah pulang dari menerima kesempatan beasiswa, ya itu kita sadar bahwa kita kembali,” ucapnya.
Dia menilai bahwa ada banyak anak perbatasan, anak pinggiran yang berprestasi yang tidak mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 maupun S3.
“Ada anak-anak perbatasan yang dikirim bukan karena prestasi misalnya, tapi karena banyak sekali anak-anak perbatasan yang tidak mendapatkan kesempatan beasiswa dan juga kesempatan memperoleh pendidikan infrakstruktur pendidikan itu,” sebutnya.
Apa yang disampaikan oleh Hillary terkait ‘alumni LPDP yang tidak mau kembali mengabdi di Indonesia melainkan masih menikmati enaknya luar negeri’ dibenarkan oleh Alumni LPDP dalam negeri Fridri (Fritz) Makanlehi yang merupakan narasumber dalam webinar itu.
Fritz mengatakan, ada banyak alumni LPDP yang tidak mau kembali ke Indonesia. Ia mengungkapkan, hindari istilah “habis manis, sepahnya dibuang”. Sudah enak di LPDP, selanjutnya kita malah lupa rumah sendiri.
“Pada saat mendaftar LPDP, kita akan mengisi dan mendatangani surat pernyataan. Dimana, pada poin c berbunyi bahwa ; bersedia kembali ke Indonesia setelah selesai studi, namun pernyataan ini masih dilanggar oleh oknum alumni LPDP,” ujar kelahiran Alor NTT itu.
Selanjutnya, Sekretaris Jenderal DPP GARPU itu membeberkan Sanksi yang ditegaskan dan ditetapkan LPDP?
- Penerima Beasiswa wajib kembali dan mengabdi di Indonesia setelah selesai studi sesuai dengan ketentuan LPDP;
- Kembali ke Indonesia dan berkontribusi di Indonesia selama 2 kali masa studi ditambah 1 tahun (2n+1) setelah selesai studi secara berturut-turut.
