Berita  

Bela 6 Akpol dan Sebut Kata ‘Bisa Jadi’, Fritz Alor Boy Minta Shiwa NTT Belajar Lagi Baru Bicara di Medsos

Salah satu orator Fritz Alor Boy sedang orasi diatas mobil komando di depan mabes Polri (12/7/2024)

Jakarta, KomPaknews.com l Aktivis jalanan, Fritz Alor Boy menilai pernyataan Shiwa NTT terkait dengan kata ‘bisa jadi’ yang ditujukan kepada identitas 6 orang Catar Akademi Kepolisian (Akpol) NTT merupakan pemahaman yang dangkal dan tidak mengusai data lapangan.

Menurut Fritz, kata bisa jadi diartikan sebagai ‘mungkin’. Kata mungkin menurut KBBI adalah tidak atau belum tentu; barangkali dan boleh jadi. 

“Itu orang ngomong orang lain pikiran dangkal tapi ia sendiri tidak koreksi diri. Kata bisa jadi yang disebutkan memiliki pengertian belum tentu atau barangkali. Nah, belajar dan pahami dulu kata bisa jadi barulah mulut bocor di media sosial,” katanya kepada awak media (16/7/2024).

“Kalau tidak mengerti pengertian frasa secara akademik, jangan bicara dimedsos. Penggunaan kata bisa jadi bukti bahwa dia sendiri tidak punya data baru banyak bacot di medsos. Nanti, malu sendiri ketika dikritik balik,” bebernya.

Sejak lama alumni Sarjana  Teknik Penerbangan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjibto Jogjakarta tak mau merespon pemain media sosial (medsos) lokal, dan Youtuber-youtuber yang menjadikan atau memanfaatkan pernyataan atau wajah Fritz Alor Boy untuk menaikan jumlah penonton dan untuk mencari cuan.

aksi bakar di depan Mabes Polri

“Ngapain saya merespon atau meladeni kelas lokal. Shiwa itu kan pemain lokal yang fansnya dikenal di lokal atau bagian timur saja. Jadi, komentarnya itu, bagi saya, tak berarti dan masih dangkal,” ujar salah satu lulusan tercepat  S2 Sistem dan Teknik Transporasi UGM itu.

“Saya merespon mereka, saya yang rugi besar. Sebab, bagiku, tidak bermanfaat bagi rakyat. Sementara, lawanku adalah para pemain nasional atau internasional,” tambah dia.

Mengomentari pernyataan youtuber-youtuber bayaran, sambungnya, adalah permintaan senior-senior dan netizen lainnya. Apabila tak ada permintaan atau reques maka ia tak akan meresponnya.

“Kali ini, saya merespon pun karena ada permintaan dari senior-senior dan fans-fansku,” katanya lagi.

Lanjutnya, calon Advokad atau pengacara itu mengatakan, ia harus mengetahui dan buka mata selebar-lebarnya bahwa yang menolak hasil seleksi Akpol NTT 2024 atau yang melakukan demo di depan Mabes Polri pada 12/7/2024 dari 28 Provinsi kedaerahan di Jabodetabek dan senior-senior hebat di Jabodetabek.

“Dia pikir, yang turun demo itu orang baru belajar kajian atau baru belajar demo kah? Dia itu buka mata dan buka hati, dong. Yang turun demo itu ada 28 orgnisasi besar di Jabodetabek dan senior-senior hebat, loh. Kok, dianggap sepeleh?,” ucap Fritz.

Karena itu, lebih lanjut, kalau memanfaatkan momen ini untuk mencari kekayaan, Fritz minta Shiwa belajar lagi baru berkomentar di medsos.

“Menggunakan kata bisa jadi adalah pemahaman yang dangkal. Kalau mau memanfaat momen ini untuk cari uang, membela siapa saja itu silakan, tapi harus objektif dan cerdas dikit. Saya minta dia itu belajar lagi dulu baru tes kami yang turun demo di Mabes Polri,” tegas dia.