Berita  

Choirul Aminuddin: Melawan Hamas, Israel Terpaksa Berunding

Oleh: Choirul Aminuddin, Penulis Lepas

PERANG Palestina melawan Israel yang dimulai pada 7 Oktober 2023, hingga saat ini, belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, kendati jumlah korban tewas dari kedua belah pihak kian bertambah.

Laporan sejumlah media di Timur Tengah sebagaimana yang saya ikuti sejak kecamuk perang itu pecah, lebih dari 14 ribu warga sipil Palestina, terdiri dari anak-anak dan kaum perempuan tewas.

Kematian itu akibat hantaman mesin perang Israel. Sementara itu, dari pihak Israel, tak kurang dari 1000 serdadu zionis meregang nyawa terkena sambaran peluru tajam Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas.

Meskipun begitu, kekejaman Israel di tanah Palestina tak memperlihatkan sinyal berhenti, justru kian meningkat kendati tekanan dunia internasional makin kuat.

Bahkan, beberapa hari lalu, Rumah Sakit Indonesia dan Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza dibombardir Israel, mengakibatkan sedikitnya 2000 warga sipil Palestina terkubur hidup-hidup di bawah reruntuhan kedua bangunan tersebut.

Bertolak dari peristiwa itu, apakah perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel berhenti?

Jawabnya, “Tidak! Mereka melawan Israel hingga tentara pendudukan zionis keluar dari tanah Palestina!”

Saya tertarik mengamati konflik bersenjata Israel-Palestina yang sedang berlangsung.

Mengapa begitu? Dari segi kalkulasi militer, seluruh pendapat pengamat perang yang saya baca mengatakan, Palestina dipastikan kalah dalam adu nyawa tersebut. Negeri itu diperkirakan hanya sanggup berperang dalam hitungan hari. Tetapi fakta di lapangan telah menjungkirbalikkan semua perhitungan matematis itu.

Bayangkan, untuk menghadapi gerilyawan Hamas yang jumlahnya sulit diketahui, Israel mengerahkan seluruh kekuatan mesin perang supercanggih yang dimiliki: tank, jet tempur, senjata antiserangan udara ataupun bom pintar.

Semua itu belum termasuk dukungan tentara terlatih disertai laporan intelijen kelas wahid. Bahkan, Amerika Serikat selaku patron negeri zionis menyiapkan bantuan dana tak terbatas bagi Israel demi meraih kemenangan perang tersebut.

Namun, sekali lagi, apakah Palestina mengerek bendera putih kepada zionis Israel? “Tidak, bukan?”

Sebaliknya, pasukan Hamas tak sedikitpun menunjukkan mental gentar menghadapi senjata modern Israel. Semua itu, menurut saya, karena Brigade Al Qassam berperang dengan landasan jihad demi mengusir pasukan pendudukan Israel keluar dari tanah Palestina.

Satu lagi yang menarik buat saya, laporan media Barat dan Timur Tengah menyebutkan pekan ini, Israel mulai gerah menghadapi perang yang berlangsung belum genap dua bulan itu.

Akibat peperangan tersebut, ekonomi Israel sangat terganggu, babak belur akibat dampak boikot warga di seluruh dunia terhadap produk-produk buatan negaranya.

Israel boleh saja mengklaim bahwa negaranya unggul perang melawan Palestina. Tetapi ada fakta lain memperlihatkan, mata uang negeri itu melemah hingga tiga persen terhadap mata uang asing.

Bahkan, investasi negeri ini mandeg hingga nol persen. Pabrik berhenti berproduksi dan seluruh perusahaan tutup akibat boikot dunia.

Dari sisi finansial, Israel kehilangan US$ 240 juta per hari atau setara dengan Rp 3,7 triliun. Hitung sendiri, berapa jumlah kerugian yang ditanggung negara jika perang tersebut berkepanjangan?

Semua itu sangat memukul kondisi dalam negeri Israel sehingga memaksa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melakukan sidang darurat membahas situasi tersebut. Netanyahu juga mendapatkan tekanan dari kelompok oposisi di parlemen agar segera berunding dengan Hamas untuk mengakhiri perang.

Kepala batu Netanyahu mulai lemah akibat berbagai tekanan. Selanjutnya, Israel tanpa rasa malu menawarkan genjatan senjata kepada Hamas dengan alasan yang dibuat-buat yakni pertukaran sandera.

“Kami ingin genjata senjata selama empat hari guna pembebasan tawanan,” ujar petinggi militer Israel yang tak bersedia disebutkan namanya kepada awak media.

Tawaran itu mendapatkan sambutan positif dari Hamas. Pada perundingan tersebut, Tel Aviv memita agar Hamas membebaskan 50 serdadunya yang ditawan. Semetara itu, zionis Israel akan melepaskan 150 warga sipil Palestina yang dijebloskan dalam kerangkeng besi.

Sambutan positif lainnya datang dari Presiden Amerika Serikat, Joe Bidden, atas perundingan damai Israel-Hamas. Pada kesempatan itu, Bidden mengucapkan terima kasih kepada Syeikh Tamim bin Hamad Al-Thani dari Qatar dan Presiden Mesir, Abdel Fatah el-Sisi. Keduanya dianggap berjasa atas upaya perdamaian ini.

Kita lihat saja nanti, apakah perang segera berakhir. Saya melihat perkembangan konflik bersenjata ini, Israel sepertinya tak sanggup berperang dalam waktu lama meskipun hanya menghadapi gerilyawan Hamas yang tak kenal kata menyerah.