Berita  

Dominasi Agama dari Imajiner Sosial ke Diskriminasi dan Kekerasan

Oleh Manche Kota
Ketua Umum Timur For Gibran

Peristiwa pembubaran paksa ibadah Rosario mahasiswa Katolik oleh warga di Tangerang Selatan memperpanjang catatan buruk kohesi sosial warga bangsa.

Ada jarak antara cita-cita agama dan realita kehidupan beragama, agama sering tampil dalam 2 wajah yg bertentangan.
Dari satu sisi agama merupakan tempat di mana orang menemukan kedamaian, kedalaman hidup, dan harapan yg kukuh, agama juga menjadi sumber inspirasi dan memberi motivasi tindak kepahlawanan/membangkitkan semangat pengorbanan, di dalam agama banyak orang menimba kekuatan berhadapan dengan penderitaan, keputusasaan dan penindasan.

Tidak disangkal begitu besar sumbangan agama bagi kemajuan peradaban manusia dan dlm mendidik serta mempertajam makna tanggung jawab.

Cukup menyedikan ketika agama dikaitkan dgn fenomena kekerasan. Atas nama agama orang bisa semena mena memperlakukan orang lain, agama dipakai utk melakukan diskriminasi, dijadikan alasan tindak kekerasan, bahkan sampai pada pembunuhan. Pembelaan biasanya sangat normatif dengan mengatakan bahwa agama mengajarkan perdamaian, menentang kekerasan, namun tidak jarang ada yang menyalahgunakan untuk kepentingan pribadi/kelompok. Pembelaan diri yang bersifat normatif ini tidak menyadari bahwa ada jarak antara ‘yang seharusnya’ dan ‘yang faktual’,  antara ajaran dan praktik kehidupan. Justru masalah yang perlu dihadapi adalah bagaimana menjembatani jarak itu supaya ajaran agama semakin terwujud dalam kehidupan dan bukan hanya menjadi alat pembenaran kekerasan atau legitimasi kekuasaan.

Ternyata meski agama menekankan perdamaian dan hormat akan martabat manusia, sebagai sistem ajaran agama masih membuka peluang penafsiran yang mendukung bentuk-bentuk kekerasan. Para pemimpin agama, teolog dan guru agama belum sampai pada titik penegasan bahwa apapun pembenarannya bila merendahkan martabat manusia, suatu penafsiran harus dipertanyakan keabsahannya. Ketidaktegasan ini memudahkan orang mencari pembenaran kekerasan melalui agama.

Penulis: Manche KotaEditor: TIM/RED