Berita  

FP NTT Danai dan Pulangkan Korban Trafficking ke NTT

DPP FP NTT didampingi Badan Penghubung NTT menyerahkan Santunan kepada Meri dan kawannya untuk dijadikan uang saku atau sebagai modal usahanya. Pembina FP NTT J.M Atamou mewakili FP NTT menyerahkan dana tersebut ke Meri

Jakarta, KomPaknews.com l Forum Pemuda NTT dan Badan Penghubung NTT berhasil memulangkan salah satu korban dugaan trafficking Meri (27) dari Kabupaten Belu, NTT. Tidaknya Meri, ada juga salah satu Tenaga Kerja (TK) yang berasal Belu NTT (17). Kedua TK dipulangkan pada 05/05/2022 dini hari.

Meri merupakan keluarga yang tidak mampu. Untuk bertahan hidup, ibunya harus bekerja sebagai petenun.

‘”Kami tidak punya sawah dan usaha. Mama bisa tenun, dan saya bantu mama. Tapi satu lembar kain tenun di hadiah dengan harga 150 ribu rupiah. Kain tenun itu, kami jual di pasar,” terang dia.

Walaupun penghasilan hasil tenunan tidak besar, Meri mengaku, mereka tetap bahagia menjalaninya.

“Penghasilan tenunan tidak besar; walaupun pembelinya juga lumayan berkurang; kadang untung, kadang rugi namun kami tetap semangat jalani hidup ini dan mama tetap menenun,” sambung Meri.

Korban Meri kepada awak media mengatakan, ada beberapa alasan yang menggerakkan hatinya agar cepat pulang kampung, diantaranya:
Pertama, ia merupakan tulang punggung keluarga
Kedua, ia sudah mempunyai dua anak. Namun suaminya sudah meninggalnya,
Ketiga, ia merupakan anak piatu. Dimana ayahnya telah meninggal dunia.
Keempat, saat ini kedua anaknya dirawat oleh Ibunya yang sudah tua.
Kelima, ia sedang menderita penyakit pendarahan. Pendarahan sudah terjadi sejak lima bulan yang lalu.

Meri Mengalami Penyakit Pendarahan.

Meri mengaku sedang mengalami pendarahan selama kurang lebih lima bulan.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Badan Penghubung NTT Donald Izaac. Donald mengatakan, Meri sedang sakit pendarahan. Ketika ia mengalami kesakitan hingga sempat pinsan, Badan Penghubung pernah larikan ke rumah sakit untuk penanganan medis.

“Beberapa kali, Badan Penghubung NTT mengantarkannya ke rumah sakit untuk dilakukan perawatan medis. Namun sampai saat ini, itupun ia belum mengalami kesembuhan,” katanya.

Donald berharap, ada uluran tangan dari orang-orang baik untuk membantu Meri dalam hal transportasi ke Belu dan untuk biaya buka usaha.

Meri pun mengakui bahwa penyakit ini sudah dialami kurang lebih lima (5) bulan lalu. Sehingga kata dia, ia akan melakukan pemulihan kesehatan dikampung secara tradisional.

“Saya sudah sakit pendarahan hampir 5 bulan. Pak Kaban sudah antar saya ke rumah sakit tapi itu pun belum sembuh. Jadi, saya pulang untuk mengobati dikampung saja,” sebut dia.

Meri Ingin Modal Untuk Usaha.
Meri berharap, ada orang-orang baik yang mau membantunya dari sisi permodalan untuk usaha membesarkan tenunan.

Ketua Tim Hukum para korban trafficking sekaligus Ketua Divisi Hukum DPP FP NTT Wilvridus Watu (Willy) mengapresiasi kerja sama tim, baik jajaran FP NTT, Badan Penghubung NTT dan FKPP NTT Banten yang begitu solid, kompak dan mau rela berkorban demi misi kemanusiaan salam menyelamatkan hingga memulangkan kedua korban itu ke kampung halamannya.

Menurut dia, tidak hanya kedua korban saja melainkan ada sepuluh korban lainnya yang ditolong hingga sudah dipulangkan ke keluargamu.

Aktivis kemanusiaan itu berharap, Meri dan kawan-kawannya bisa mengambil sisi positifnya dan mau mensosialisasikan dampak baik maupun buruknya trafficking yang marak terjadi di Indonesia.

“Semoga ini menjadi pelajaran positif yang bisa dijadikan pengalaman berharga. Jangan lupa, semoga kalian bisa mensosialisasikan informasi beginian kepada rakyat di kampung.” imbuh advokat muda NTT itu.

“Jika ada yang mengajak/iming-iming bekerja diluar NTT dengan gaji menggiurkan, kalian bisa mencegah atau menceritakan dampak buruk yang pernah kalian alami/rasakan,” sebut advokat muda cerdas itu.

“Jangan lupa, salam hangat buat keluarga di kampung,” sambung dia.

Terkait Uang Transportasi dan Uang Saku Untuk Usaha.

Meri membutuhkan biaya untuk melanjutkan usaha tenunan di kampung. Selain itu, menurutnya semoga ada yang mau membantu dalam hal pemasaran.

Merespon hal itu, Ketua OKK FP NTT Fridrik Makanlehi mengatakan, tim nonligasi FP NTT yang menengani persoalan trafficking ini telah mengeluarkan dana dari kantong masing-masing untuk membiayai Meri untuk pulang.

“Kami dari Forum Pemuda NTT mengumpulkan uang dari berkat masing-masing untuk membeli tiket; memulangkan Meri ke kampungnya, Belu,” katanya.

Tidak hanya uang tiket, tim juga mengumpulkan uang saku untuk Meri buka usaha.

“Kami dari FP NTT kumpul uang lagi untuk bantu Meri. Kami serahkan uang tersebut dengan tujuan Meri pakai buka usaha; lanjutkan usaha tenunan,” tambah pria yang sering dipanggil Fritz Alor Boy itu.

FP NTT tidak hanya memberikan uang saku kepada Meri saja melainkan 10 korban lainnya.

“Bukan hanya Meri, sumbangan ini merupakan sumbangan kedua kepada Meri. Sebab kita tau bahwa mereka sudah berhenti kerja. Maka tim Nonligasi FP NTT yang dipimpin oleh Willy itu berinisiatif mengumumpulkan uang untuk dibagikan ke 10 korban trafficking lainnya. Tujuannya, mereka gunakan untuk uang sabun atau pulsa,” sambung dia.

Tim Nonligasi FP NTT yang peduli terhadap persoalan trafficking
1. Pembina J.M Atamou, DR (C)Tardy Mbalembout, SH.,MH CLA AllArb, Petrus Selestinus, S.H.,M.H dan Sandra Hartono.
2. Ketua Umum Pdt. Yohanes Ndale
3. Waketum Norman Mbula, SH
4. Sekjen Masudin Ahmad, SH
5. Ketua tim Wilvridus Watu (Willy), S.H., M.H
6. Manche Kota, S.H. M.H
7. Tobbyas Ndiwa, SH
8. Gregorius Upi Dheo, SH
9. Fridrik Makanlehi
10. Lynce Mbalur
11. Neftong Alfares, SH
12. Onkar Manimabi, SH
13. Ebbit Rettu
16. Nana Invi
17. Engel Hasiman, SH
18. Jajaran FP NTT lainnya

Penulis: TIM/RED