Irma Suryani Chaniago NasDem Minta IDI Dibubarkan. Baginya, IDI Cuma Organisasi Profesi

Angggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai NasDem Irma Suryani Chaniago (Sumber: siaran langsung Youtube DPR RI.)

Jakarta, KomPaknews.com l Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi NasDem Irma Suryani Chaniago mengusulkan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dibubarkan. Mengapa? kata dia, IDI adalah organisasi profesi kedokteran yang seharusnya menerapkan tujuan IDI. Tujuan IDI didirikan adalah untuk melindungi anggota, memberdayakan anggota, mendukung anggota, mempertinggi derajat kesehatan Indonesia. Bukan main pecat -pecat anggotanya yang berprestasi.

Menurut dia, Jenderal TNI Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad adalah aset bangsa yang perlu dilindungi, didukung, dan dijaga.

“Tujuan didirikan IDI, IDI kan organisasi profesi (ormas) sama kalau saya memandangnya dengan seperti Serikat Pekerja yang memiliki fungsi: melindungi anggotanya, memberdayakan anggotanya, kemudian mensupport anggotanya bukan memecat anggotanya,” ujarnya saat Komisi IX RDPU dengan IDI di Kompleks Parlemen, Senayan (04/04/2022).

“Tujuan lainnya yaitu, yang pertama kesehatan rakyat Indonesia, mempertinggi derajat kesehatan Indonesia,” lanjutnya.

Politisi Partai NasDem itu menilai, dr Terawan telah memenuhi syarat atau tujuan yang dimiliki oleh IDI.

“Terkait kasus dokter Terawan, saya kira beliau sudah memenuhi ini (tujuan yang dimiliki IDI). Ilmu Pengetahuan Teknologi, mempertinggi derajat kesehatan dan ilmu – ilmu lain yang berhubungan dengan itu. Saya kira beliau juga sudah memenuhi syarat itu,” kata Ketua Umum DPP Gemuruh NasDem itu.

Ia mengatakan, IDI tidak mempunyai tujuan yang berhubungan dengan pembinaan, pengembangan, dan kemampuan profesi

“Kemudian, profesi anggota ‘membina dan mengembangkan, kemampuan profesi anggota’. Saya lihat IDI gak ada ni. Di profesi anggota ini, IDI tidak melakukan pembinaan dan mengembangkan kemampuan profesi anggota,” katanya.

Lanjutnya, katanya dalam RDPU itu, IDI hanya memecat – memecat saja.

“Kemudian kesejahteraan anggota meningkatkan kesejahteraan anggota, IDI gak mensejahterakan anggota. Orang, seenak – enaknya udahnya aja mecat -mecat anggota,” sebutnya.

Terkait dr Terawan, ia menilai praktik metode cuci otak atau DSA yang dilakukan oleh Terawan sangat manfaat bagi pasien.

“Jelas cuci otaknya dr Terawan itu berguna bagi pasien dan banyak dan semua pasien mengatakan itu tidak punya efek samping, justru malah menyehatkan, memberikan kesehatan, menambah kecerdasan. Banyak yang disampaikan oleh pasien – pasien dr Terawan terkait testimoni mereka sesudah dilakukan DSA,” jelas dia.

Ia membeberkan, sebanyak 2500 dokter muda yang tidak lulus uji kompetensi. Dokter – dokter muda yang tidak lulus kompetensi itu dikwatirkan akan mengganggur. Dirasa IDI tak sejalan dengan tujuannya, di saat itulah ia meminta agar IDI dibubarkan.

“Nah, kemudian saya mau sampaikan lagi ni, kalau memang profesi IDI, tujuan IDI itu adalah mensupport anggota, memberikan perlindungan anggota, ini ada 2500 dokter muda yang tidak lulus uji kompetensi bakal menganggur ini. Terus, apa yang dilakukan IDI kepada mereka? apa yang dilakukan IDI? cariin jalan keluar, gak. dibiarin begitu aja. Kemudian enak – enak mecat – mecat kalau nggak setuju.”

Sehingga, “Bubarin aja IDI-nya. Ngapain orang cuma organisasi profesi, kok,” usul Irma kepada seluruh peserta Anggota RDPU.

Selain itu, ia mengatakan bahwa IDI hanya bersifat memberikan rekomendasi bukan main pecat segala.

“IDI hanya cuma memberikan rekomendasi sama dengan Komisi IX ini. Komisi IX ini gak bisa memberikan sanksi kepada pemerintah. Hanya memberikan rekomendasi. Boleh dipake, boleh enggak.”

“Tergantung yang pemerintah, pemerintah mau menggubris atau tidak menggubris. Tapi, ada tapinya, parelemen ini dibentuk untuk mengawasi pemerintah. Jelas itu, fungsinya. Tapi kalau IDI apa? gak bisa, IDI sembarangan – sembarangan memecat anggotanya.”

“Karena cuma memberikan rekomendasi. IDI kan bukan satu institusi yang harus memang dipatuhi,” sambungnya.

Ia menilai, apa yang dilakukan dr Terawan sudah benar. Ia tidak melihat kesalahan yang dilakukan oleh dr Terawan.

“Bayangkan, yang namanya dokter itu punya sumpah dokter. Harusnya mendahulukan kepentingan keselamatan nyawa manusia. Nah, itu yang dilakukan dr Terawan, salah satunya. Saya gak melihat ada kesalahan yang dilakukan dr Terawan? harusnya IDI memberikan supporting kepada dr Terawan bagaimana caranya, agar DSA itu bisa diterima, disupport, karena gak ada yang bermasalah dan menyelamatkan. Kenapa tidak di perbolehkan?,” pungkasnya.

Penulis: FritzEditor: TIM/Red