Kenapa Pemilu Menjadi Penting

Pemerhati Hukum: M. Yamin Nasution

Oleh: M Yamin Nasution

Tidak ada keputusan politik yang lebih dari setiap warga negara yang dapat di ambil oleh setiap pemilih Indonesia selain memilih siapa yang akan menjadi Presiden berikutnya.

Alasan sederhananya adalah, saat seorang Presiden terpilih menjabat, dia menjadi tokoh sentral dalam pemerintahan Republik Indonesia dan menjadi wajah Indonesia di kepemimpinan seluruh dunia.

Secara de facto dan de jure tidak ada yang lebih kuat dan tidak ada orang yang lebih berpengaruh yang menjadi pegangan atas harapan setiap individu masyarakat.

Meski pertaruhannya menjadi sangat besar mengingat UUD hanya memberikan syarat sangat rendah, UUD memberikan sedikit persyaratan kelayakan dan tidak ada pedoman formal tentang selayak apakah seseorang menjadi Presiden, bahkan orang-orang yang memiliki beban masa lalu masih dapat di calonkan.

Oleh karena itu, Masyarakat di tuntut untuk memilih pemimpin yang memiliki qualifikasi tertinggi, bukan sebaliknya.

Pemimpin Beracun

Jean Lupman Bluman mengatakan; setiap pemimpin memiliki kekurangan yang tidak mungkin dapat memenuhi seluruh janji-janinya, hal ini disebabkan banyak faktor yang berkaitan dengan ketidakpastian masa depan, baik alam, politik nasional & global, dll, maka di butuhkan seorang pemimpin yang memiliki karakter.

Pemimpin yang berkarakter didapat atas dua hal; 1). Genetik, 2). Sosial Lingkungan. Dalam ruang kepemimpinan maka, dibutuhkan seorang pemimpin yang berkarakter sehingga dapat memenangkan perdebatan diruang kepemimpinan yang di dominasi oleh ketua partai, timses yang berjasa memenangkan dan pihak pemodal sehingga realisasi pelaksanaan atas janji-janjinya terjadi. Dan ketidaksempurnaan pemimpin tersebut meninggalkan hanya sedikit beban bagi rakyat, minimal 65-75% janji-jani kampanye dapat terpenuhi, dan seorang pemimpin dapat disebut berhasil dalam kepemimpinannya.

Pemimpin Beracun pada awalnya menarik dan menggoda, namun pada akhirnya dia manipulasi, merusak, dan berkhianat. Dan pemimpin beracun tersebut akan melahirkan orang-orang yang lebih buruk dari dirinya sendiri, seperti relawan, orang-orang dari partai pendukung, sebab mereka hanya melihat dari ruang empuk kekuasaan, yang mencari keuntungan dalam hal jabatan, bisnis, dan kesenangan faksi.

Luca Jacobi Khron dalam Pelayan Publik Adalah Boneka “The Public is Poppet” mengatakan; para kandidat menampilkan yang terbaik dari diri mereka dibantu oleh para sponsor dan tim suksenya, maka kewajiban masyarakat untuk melihat latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, latar belakang (rekam jejak) dari awal menjadi setiap kandidat, agar masyarakat tidak memilih pemimpin boneka, yang sedikitpun tidak bermanfaat bagi masyarakat umum.