Jakarta, KomPaknews.com l Demi mewujudkan keadilan atau kesetaraan dan pemerataan, Calon Presiden Anies Baswedan – Calon Wakil Presiden Muhaimin (AMIN) akan menaikan ‘kuota Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) naik hingga 2 kali lipat per tahun dan voucher kursus/tes bahasa asing Rp3,5 juta per orang untuk persiapan beasiswa’ bagi para pemburuh beasiswa S2 dan S3.
Merespon program kerja AMIN itu, Alumni LPDP Fridrik Makanlehi, ST, SH.,M.Sc.,C.NS, C.ME atau yang dikenal Fritz Alor Boy memuji-muji rencana program kerja AMIN itu kepada Pemuda, Gen Z maupun para pemburuh beasiswa lainnya.
Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Relawan Anies Presiden Indonesia (DPP R-API)/BETA MANIES, tak hanya menaikan Kuota LPDP 2 kali lipat per tahun dan voucher kursus/tes bahasa asing Rp3,5 juta per orang untuk persiapan beasiswa saja, tetapi menjadi gratiskan TOEFL ITP dan subsidikan IELTS, PBT atau IBT serta berikan pelatihan/kursus (kursus) kursus untuk anak-anak yang berekonomi kecil dan menengah.
“Saya salut banget. AMIN sangat konsen pada dunia pendidikan. Itu hal yang menarik dan tepat banget. Sudah tentu akan membantu para pemburuh beasiswa dari segala kalangan. Tetapi, waktu pertemuan kecil dengan Timnas Amin, saya sudah mengusulkan agar AMIN segera konsen benahi program-program beasiswa LPDP,” katanya pada 10/12/2023.
Tak hanya memuji, ia juga meminta AMIN segera merevisi Program Amin 2024 terkait Beasiswa LPDP tersebut.
“Saya meminta kepada A1 AMIN bahwa segera merevisi program itu. Gratiskan atau adakan kursus TOEFL ITP, IELTS atau PBT atau IBT atau buat khusus beasiswa untuk anak-anak tak mampu seperti anak yatim-piatu, anak korban bencana alam, anak ojek, anak TKI, anak dept collector, anak sopir angkot, anak taksi, anak ojol, anak pemulung, anak buruh, anak petani, anak satpam, anak cleaning service, anak tukang bangunan, tukamg kayu, anak tukang aspal jalan, anak nelayan dan sebagainya,” lanjutnya.
Ia menilai, voucher kursus atau tes bahasa Asing Rp3,5p juta per orang tak cukup. Sehingga, lanjutnya, harus dinaikan lagi.
“Sekali Tes IELTS habiskan Rp 3 jutaan. Itu pun belum tentu lulus. Kenyataannya, ada juga yang berkali-kali tes IELTS tapi tidak lulus. Sehingga mereka harus tes berkali-kali demi mendapatkan certifikat itu. Jadi, anggaran sebesar Rp 3 jutaan itu lebih cocok untuk TOEFL ITP saja,” katanya.
Tak hanya itu, demi mewujudkan keadilan, kesetaraan dan pemerataan bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana yang diamanatkan Pancasila, ia mengusulkan agar AMIN tambah formasi beasiswa Kristen, Hindu, Budha, Kong hucu dan lainnya. Mengingat, saat ini LPDP hanya menyiapkan formasi santri saja.
“Indonesia menganut 6 agama. Saat ini, LPDP hanya menyiapkan Beasiswa Santri. Tak ada tuh Beasiswa keagamaan lainnya. Di Kristen juga ada Teologia, di katolik ada Seminari, tak salah di Hindu ada ashram, Budha dan lainnya. Itu baru adil, setara dan merata,” usulnya.
Menurutnya, ia sudah berkali-kali menyampaikan ke pihak LPDP tetapi belum direspon.
“Saya berkali-kali mengusulkan agar LPDP bisa merealisasikannya namun sampai saat ini tak ada kabar. Yang telah di terima hanyalah BIT (Beasiswa Indonesia Timur),” tutur Fritz.
Sehingga, Alumni Magister Sistem dan Teknik Transportasi (MSTT) Fak Teknik UGM itu meminta AMIN harus benar-benar konsen terhadap perubahan yaitu perubahan untuk mewujudnyatakan keadilan, kesetaraan dan pemerataan.
“Tak boleh pandang buluh dan harus adil serta merata ke siapa saja. Gerakan perubahan itu bisa dimulai darimana saja, termasuk LPDP. Jadi, bagiku, sudah saatnya formasi-formasi 5 agama lainnya yang belum diakomodir oleh Beasiswa LPDP segera diwujudkan oleh AMIN,” tegas aktivis kemanusiaan itu.
