Berita  

Manche: Film Pesta Babi, Siasat Jahat Merawat Kemiskinan Papua

Manche Kota
Ketum Aliansi Indonesia Timur

Ragnar Nurkse mengemukakan bahwa kemiskinan cenderung mempertahankan dirinya sendiri melalui suatu siklus yang sulit diputus, ini dikenal sebagai Teori Lingkaran Setan Kemiskinan. Masyarakat yang berpendidikan dan keterampilan rendah menghasilkan produktivitas dan penghasilan yang rendah akibatnya sulit membiayai pendidikan anak, anak tumbuh dengan kondisi yang sama, akhirnya kemiskinan diwariskan dari generasi ke generasi.

Film pesta babi dikemas sebagai kritik sosial dan potret realitas Papua tetapi realitasnya narasi yang dibangun menggambarkan kegagalan dan niat jahat pemerintah terhadap rakyat Papua. Penggunaan simbol dan narasi yang menghasut merefleksikan motif jahat yang patut diwaspadai, apalagi belakangan diketahui pembiayaan film ini disponsori oleh Open Society Foundations
Kemiskinan di Papua merupakan salah satu persoalan pembangunan yang paling kompleks di Indonesia. Terlepas dari berbagai program pemerintah, dana otonomi khusus, dan pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan, mayoritas masyarakat Papua masih menghadapi keterbatasan akses terhadap kesejahteraan.
Hampir semua daerah yang mengalami lompatan kemajuan ekonomi ditopang oleh aktivitas industri yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan perputaran ekonomi. Papua membutuhkan kehadiran aktivitas industri, masyarakat Papua jangan lagi dimanipulasi dengan jargon “cukup hidup dari hutan dan sungai saja”.

Aktivitas industri harus memberikan ruang dan peran yang nyata bagi masyarakat sekitar. Keterlibatan tersebut dapat diwujudkan melalui penyerapan tenaga kerja lokal, program peningkatan keterampilan, kemitraan dengan UMKM, pemberdayaan petani atau masyarakat adat, serta pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka. Masyarakat Papua harus menjadi pelaku utama, penerima manfaat, dan mitra strategis dalam setiap proses pembangunan di tanah Papua.

Cukup sudah rakyat papua hanya dijadikan obyek yang dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh oknum pemerintahan, korporasi maupun aktivis