Berita  

Mediasi PIK 2 Gaduh, Muanas Alaidid Sebut Khozinudin Cs Perlu Kedepankan Etika dan Adab dalam Mediasi

Jakarta, KomPaknews.com – Kuasa Hukum PT Agung Sedayu Group, Muannas Alaidid mengkritik Kuasa hukum Ahmad Khozinudin Cs perlu kedepankan etika dan adab dalam berdiskusi. Ia menilai, tindakan Ahmad Khozinudin Cs telah menyebabkan terjadinya kegaduhan atau keributan saat proses mediasi persoalan PIK 2 dan Pembangunan PSN, hingga berujung pada pembubaran Mediasi.

Ia mengatakan, ketika pihak Penggugat atau PIK 2 dan PSN memberikan komentar soal mediasi pihak Khozinudin Cs selalu memotong-motong. Sudah tentu, lanjutnya, berkaitan dengan etika dan adab dalam diskusi.

“Memang, tadi kita melihat ada keributan didalam mediasi. Jadi, ketika proses mediasi sebetulnya sedang berlangsung normal. Artinya diberikan kesempatan kepada pihak prinsipal Penggugat untuk memberikan pendapat berkaitan dengan mediasi. Setelah itu dia (Khozinudin Cs) menyampaikan keterangan-keterangannya. Kemudian diberikan kesempatan kepada kita selaku kuasa dari prinsipal Tergugat untuk memberikan pendapat,” katanya setelah proses mediasi itu berlangsung di Pengadilan Negeri Jakpus (25/2/2025).

Pihak Khozinudin Cs

Pihak Mediator di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terpaksa menghentikan proses mediasi karena adanya kegaduhan dan saling adu mulut antara Penggugat dan para Pembela Pekerja PIK 2.

Ia mengkritik kelakuan atau sikap Khozinudin Cs yang tak menghargai pihaknya.

“Salahnya adalah ketika dia (Khozinudin Cs/Red) berikan komentar, kita sama sekali tidak ada yang mengganggu. Tapi, ketika kita yang memberikan pendapat malah di potong-potong. Ini berkaitan dengan adab dan etika sebagai kuasa dalam proses mediasi,” sambungnya.

Muanas menyebutkan, pihak Khozinudin bukannya mencari keadilan melainkan untuk kepentingan konten kreator.

“Memang, kenapa mereka selalu membuat keributan dan kegaduhan dalam setiap persidangan? Karena niatnya memang bukan mencari keadilan namun mereka itu konten kreator. Dari konten, mereka akan sebar-sebarkan dengan versi monolog narasi mereka seolah-olah kita hadir disini dianggap membangun opini negatif kepada publik,” ujar Muanas.

“Nah, pola-pola seperti ini sebetulnya yang pernah saya sampaikan bahwa target mereka adalah kebohongan yang mereka ulang-ulang di mediasi sosial ini akan bisa berikan pengaruh buruk, memberikan dampak negatif yang sebetulnya mereka lakukan,” tambah dia.