Alor, KomPaknews.com l Sejumlah 21 Vikaris Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) se-Tribuana resmi ditahbiskan menjadi pendeta. Penahbisan 21 vikaris itu menjadi Pendeta GMIT diadakan di Kamengtakali, Alor Tengah Utara, Alor, Nusa Tenggara Timur (26/07/2022).
Dalam sambutan, Ketua panitia penahbisan 21 Pendeta GMIT di Tribuana, Sabdi Lukas Eklopas Makanlehi, SH.,MH mengatakan, panahbisan ini bisa terjadi oleh karena kasih karunia Tuhan kepada Majelis Sinode GMIT.
“Semua Tuhan punya, kami berikan untuk Tuhan,” ujarnya.
“21 Pendeta yang baru ditabis oleh para Pendeta seniornya. Tepuk tangan bagi seniornya (Pendeta senior),” lanjutnya.
Camat Alor Tengah Utara itu menjelaskan, Kamengtakali merupakan pusat mesbah dan rumah bersama. Maka sudah tepat menjadi tuan rumah.
“Selamat datang di Kamengtakali, pusat mesbah dan rumah bersama untuk memuji TUHAN,” katanya.
Bersama Jemaat Kamengtakali mengucapkan terima kasih kepada Sinode GMIT, Klasis Alor Tengah yang telah menunjuk Kamengtakali menjadi tuan rumah.
“Terima kasih kepada Tuhan yang melalui Majelis Sinode GMIT, memberikan kepercayaan kepada 167 Kepala Keluarga dan 8o3 jiwa di Jemaat Kamengtakali dan gedung Gereja ini menjadi tempat dilaksanakannya penahbisan 21 vikaris menjadi pendeta,” sambung Ketua Panitia
Tidak hanya itu, ia pun melanjutkan pesan dari orang tua Jemaat Kamengtakali kepada 21 Pendeta itu
“Khusus 21 Pendeta, ada pesan dari orang tua Kamengtakali ‘kalaulah kita ingin mendaki ke puncak Gunung Muna dan Gunung Tuntuli, lihatlah di sekeliling masih ada Gunung Maru, Gunung Sirung, Gunung Koya-koya, Gunung Laling dan gunung-gunung lainnya. Tanamlah satu pohon untuk menceritakan tapak kaki kita sehingga, jika kita turun dari puncak gunung itu, pohon yang telah kita tanam tetap mekar sebagai pohon kehidupan. Tetapi, kalaupun kita tidak sempat tanam pohon diatas puncak gunung, ingatlah bahwa masih ada bekas kaki kita dipuncak gunung tersebut, yang menceritakan bahwa kita pernah sampai disana’,” jelas dia.
Merespon pesan tersebut diatas, untuk menjadi bukti sejarah bahwa Kamengtakali pernah menjadi tuan rumah penahbisan Pendeta, ia pun menanam dua pohon yaitu satu di Petleng dan satunya di Mebung. Menandakan dan diartikan sebagai pohon sejarah, yang dinamakan pohon pentabisan 21 Pendeta.
“Tadi, saya mau datang, saya tanam dua pohon yaitu satu di Mebung namanya Pohon Sawo dan satu di Petleng namanya Pohon Langsat. Dan saya namakan Pohon Pentahbisan 21 Pendeta dan pohon itu terus akan menjadi sejarah dalam peristiwa iman ini,” pesan Camat ATU.
